Post-Event: Webinar “Relasi Seni & Moralitas”

Ditulis oleh: Helena Calista
Disunting oleh: Brian Alvin Hananto, S.Sn., M.Ds.

Pada hari Selasa, 23 Maret 2021, Laboratorium Desain Editorial dan Publikasi bersama dengan Jurnal Strategi Desain dan Inovasi Sosial (JSDIS) kembali mengadakan webinar yang ke-6 dengan judul Relasi Seni & Moralitas, yang dibawakan oleh Ferdinand Indrajaya S.Sn., M.Hum., pengajar Program Studi Desain Komunikasi Visual Universitas Pelita Harapan, dan dimoderasi oleh Dr. Martin Luqman Katoppo, S.T., M.T., Dekan Fakultas Desain dan Editor in Chief dari JSDIS.

Poster Acara Webinar “Relasi Seni & Moralitas”

Dalam sesi utama ini, Ferdinand ingin membagikan salah satu perspektif filosofis untuk memberikan penjelasan akan keterkaitannya antara ‘yang indah’ dan ‘yang baik’. Patung McJesus, lukisan Mayre? Mayra Henry?, album musik Rock Marilyn Manson, film Joker, dan novel Davinci Code menjadi contoh karya yang bersifat kontroversi dan dibahas sebagai pembukaan dari presentasi yang hendak ingin disampaikan.

Kontroversi yang ditimbulkan oleh karya seni tidak hanya berbenturan dengan perspektif moral dalam lingkup religi saja, tetapi juga dalam lingkup kehidupan lain.

Ferdinand Indrajaya, S.Sn., M.Hum.

Otonomisme, poin pertama yang dibahas, menjadi suatu pandangan teoritis dan filosofis yang menyatakan bahwa karya seni sudah seharusnya mengevalusai berdasarkan standar artistiknya, sehinnga dimensi estetika menjadi titik pijakan saat menilai suatu karya seni. Bapak Ferdinand juga memberikan penjelasan mengenai konsekuensi, bahwa dengan menerapkan padangan teoritis, karya seni menjadi tidak memiliki peran apapun, hanya sebatas objek kontemplatif estetis. Dengan demikian, nilai estetis menjadi tumpang tindih dengan persoalan fakta – jika ada kecocokan dan kebenaran maka karya itu menjadi benar, ketika benar artinya karya seni menjadi indah.

Dilanjutkan dengan membahas Nussbaum, Ferdinand juga mengangkat pemahaman Nussbaum mengenai emosi. Emosi dari perspektif Nussbaum merupakan tanggapan cerdas terhadap perspesi akan nilai.

Emosi itu adalah produk dari mental atau rational judgement.

Ferdinand Indrajaya, S.Sn., M.Hum.

Ferdinand mengungkapkan bahwa bentuk emosi yang paling penting dan mendapat perhatian khusus dari Nussbaum adalah bela rasa (compassion). Bela rasa menjadi dan dianggap penting karena memiliki keterkaitan yang erat dengan kepedulian etis, dengan begitu bela rasa bisa dipercaya sebagai panduan moralitas. Bapak Ferdi mengumpamakan bela rasa sebagai pintu masuk agar kita dapat terarah untuk melakukan tindakan tertentu dan menuntun kita untuk bertanya “what should I do?

Karya seni naratif yang kerap mendapat perhatian dari Nussbaum adalah tragedi. Menurutnya, tragedi mengisahkan tentang kehidupan orang-orang baik yang dirusak oleh hal-hal yang terjadi namun tidak bisa dikendalikan oleh manusia.

Setelah kedua penjelaskan yang telah dipaparkan hal ini menunjukan perbedanya dengan moralisme seni yang memiliki pandangan yang mengatakan bahwa nilai estetis dalam karya seni didetermenasi pada nilai moralnya.


Lihat Webinar “Relasi Seni dan Moralitas”:

Sesi Materi
Sesi Tanya Jawab

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *